Thursday, 25 September 2014

SURAT CINTA

Kata orang mencintai orang lain itu indah dan berjuta rasanya. Ya, aku dulu juga pernah merasakannya. Tapi itu sudah lama berlalu. Kalau dipikir lagi itu adalah terakhir kalinya aku jatuh cinta pada seorang pria. Aku hanyalah gadis biasa yang tidak terlalu menarik dan tidak memiliki keahlian khusus. Hidup ku benar benar sederhana dan biasa saja. Kalau dibandingkan dengan dulu, tentu hidupku sekarang jauh lebih baik. Aku sedang dalam tahapan melupakan masalalu ku yang kelam karena mantan kekasihku. Dalam artian aku sedang menata hatiku lagi agar aku bisa mencintai orang lain nantinya. Hidup dengan hati terluka dan membeku sungguh tidak normal ku rasa. Layaknya zombi yang hanya bisa bergerak tanpa tahu tujuan.           
Hari ini seperti hari-hari biasanya, aku pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi buku untuk karyaku berikutnya. Aku penulis yang masih amatir, tapi aku terus berusaha untuk meningkatkan kualitas karya-karyaku. Puisi adalah salah satu favoritku. Tentang kata yang penuh makna yang akan tersimpan lama di dalam hati pembacanya. 

Perpustakaan tidak begitu ramai. Ada beberapa orang yang berkerumun di rak memasak. Kelihatannya mereka sedang mencari bahan untuk mengerjakan tugas tata boga. Terdengar suara lirih mereka dari tempat aku berdiri yang jaraknya hanya 1,5 meter. aku berjalan lagi ke rak sejarah. Ada seorang pria yang sedang berdiri di sana. Ia tengah mencari sebuah buku yang sepertinya sulit didapatkan. Ia mencari dengan teliti di setiap sudut rak dan memilah buku di depannya dengan hati-hati. Pria itu nampak kikuk setelah kehadiranku. Buku yang ditangannya jatuh ke lantai. Aku membantunya mengambil buku-buku sejarah itu dan sekilas melihat judulnya. Buku yang sedang aku cari ada di sana. 

“Kau masih akan membacanya?” tanyaku sambil memberikan buku-buku itu. 

“Mungkin aku akan meminjamnya,” jawabnya. 

“Bisakah buku ini untukku?” aku menunjuk pada buku sejarah pulau jawa yang ada di tumpukan paling atas. Pria itu mengernyitkan dahinya dan pergi begitu saja. Pria apa ini? Kenapa tidak mau berbagi. Aku tak mau kehilangan buku itu dan berjalan mengikutinya dari belakang. Pria itu duduk di bangku paling ujung dan aku duduk di sebelahnya. 

“Aku sedang membutuhkan buku itu. Bagaimana kalau kita barter?” 

“Barter?” “Aku akan mencarikanmu buku yang kamu inginkan, meski itu buku langka. How?” 

“Kau bisa meminjam ini minggu depan kan?” 

“Sayangnya aku tidak punya banyak waktu.” Pria itu berfikir sesuatu saat aku membuat pernyataan itu dan akhirnya ia berkata, 

“Oke baiklah. Tapi buku yang aku cari sangat sulit jika memang kau tidak punya waktu maka biarkan saja. Minggu depan aku akan meminjam buku ini.” 

“Kau yakin kalau aku akan mengembalikannya?” aku sedikit menggodanya dan mengambil buku sejarah itu dari hadapannya. Aku mengambil kertas dan pulpen dari dalam saku kemejaku dan menuliskan nomor teleponku. “Hubungi aku jika kau ingin ku carikan buku mu itu.” Aku pergi meninggalkannya sendirian di sana dan menyelesaikan urusanku. Mungkin dia juga tidak akan menghubungiku. 

Malam ini aku membaca buku ini di sebuah cafe di dekat rumahku. Tempatnya nyaman. Inspirasiku sering muncul kalau aku berada di sini. Baru lima menit aku duduk di sini, telepon genggam ku berdering. Di layar tertera nomor yang panjang dan aku tidak kenal. “Halo?” nadaku datar. 

“Hei, ini aku Rei.” 

“Rei siapa?” 

“Orang yang kau rampas bukunya tadi.” 

“Oh, ya, ada apa?” 

“Apa kita bisa bertemu? Aku lupa ada materi yang harus aku catat di literatur itu. ini untuk tugas kuliah ku besok,” suaranya terdengar panik. 

“Oh ya, datang saja ke Birth Cafe. Aku ada di sana sekarang. Kau bisa mengerjakannya juga.” 

“Oke, aku akan kesana.” Setengah jam kemudian Rei datang dengan membawa leptopnya. Dia sangat panik saat datang dan hampir saja menumpahkan minumanku di atas meja. 

“Sorry, aku terburu-buru.” 

“Santai saja, mungkin ada yang bisa aku bantu?” 

“Aku rasa kau cukup mengerti sejarah.” 

Awal mula sebuah cerita adalah pertemuan. Aku menunggu pertemua seperti ini dalam hidupku. Pertemuan dengan seorang teman yang bisa mengerti kita apa adanya. Teman itu tidak bisa tergantikan dengan apapun bila dijaga dengan baik. Aku juga akan menjaga pertemanan dengan Rei ini. Hari demi hari berlalu. Kami semakin akrab. Kami banyak bertukar pendapat tentang berbagai hal. Sesuatu yang jarang sekali terjadi padaku saat bersama dengan lawan jenis. Perasaanku juga mulai perubah padanya. Tapi ego ini tidak boleh lebih besar dari ikatan persahabatan ini. Aku mencoba meredamnya setiap hari, setiap detik karena aku tak akan lama berada di sini. Tak ada yang tahu berapa lama seseorang akan berada di tempat yang sama. Sehari, seminggu atau setahun. Sampai saat itu tiba, biarkanlah persahabatan kami menjalani ceritanya. 

“Apa kata-katamu dulu masih berlaku?” tanya Rei pagi ini. 

“Kata-kata yang mana?” 

“Mencarikan aku buku itu.” 

“Buku apa yang ingin kau cari?” 

“Plato.” 

“Baiklah aku akan mencarikannya.” Aku memasuki gudang rumah yang berdebu. Aku ingat ayah dulu pernah memiliki buku yang diminta Rei. Disini banyak sekali buku karena rumah kami terlalu kecil untuk meletakkan semua buku-buku ini. Sebenarnya kami ingin membuat sebuah ruangan khusus yang nantinya akan dihuni oleh buku-buku ini tapi entah kapan akan terwujud. Aku mencari buku itu dari kardus satu ke kardus lain. Seharusnya ayah menyimpan buku-buku itu sesuai abjad jadi akan lebih mudah saat mencarinya seperti ini. 

Sudah sejam aku mencari tapi tak menemukannya juga. Tinggal kardus terakhir yang ada di sudut ruangan yang belum aku periksa. Mungkin saja ada di dalam kardus itu.benar saja, akju menemukan buku itu disana. Aku terhuyung-huyung saat pergi ke kamar karena terlalu lama mencari. Aku melihat kalender yang ada di dinding kamarku dan tersenyum kecut saat melihat catatan tanggal 6 Januari, besok. Besok akan jadi hari yang berat, sangat berat bagiku. 

Rei pergi ke cafe untuk mengambil buku yang ia minta. Di lantai atas, dia tidak menemukan siapapun, yang dia temukan hanyalah buku Plato yang terletak di atas meja bundar, tempat dimana biasanya mereka berdua duduk. “Kemana dia?” tanya Rei pada dirinya sendiri dan mengambil buku itu. ia membuka-buka buku itu dan sesuatu jatuh dari sana. Sebuah amplop berwarna biru laut, tanpa tulisan, tanpa kata-kata. Rei duduk dan membuka amplop yang ada di tangannya. “Surat?” Rei pun membaca isi surat itu. 

Kata orang habis gelap terbitlah terang. Aku menunggu lama untuk mendapatkan kalimat itu dan sejak hari itu  kamulah terang itu bagiku dan aku tidak bisa memungkirinya lebih lama lagi. Aku harap kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti. –Mia-   

Mia sedang memakai headsetnya saat seorang pramugari datang menghampirinya dan menanyakan apakah ia ingin sesuatu atau tidak. Lalu ia bertanya pada sang pramugari, “Apa kita akan berhenti sebentar di London?”

Lelaki yang Ingin Menghilang di Balik Cahaya

Ada seseorang yang memulai kariernya sejak remaja. Mereka berlima, bernyanyi bersama, tumbuh dalam sorot lampu yang sama. Ia yang paling tua...