Ada seseorang yang memulai kariernya sejak remaja. Mereka berlima, bernyanyi bersama, tumbuh dalam sorot lampu yang sama. Ia yang paling tua di antara mereka, dengan jarak usia hanya sekitar satu tahun dari masing-masing member. Mereka bersama sejak usia tujuh belas—mungkin bahkan lebih muda dari itu.
Segalanya berjalan baik, setidaknya di permukaan. Mereka meraih kesuksesan seperti yang diharapkan banyak orang pada usia dua puluhan. Panggung megah, sorakan, mimpi yang tampak sempurna.
Ia pernah berkata bahwa mereka hanya rekan kerja, dan ia hanya melakukan pekerjaannya. Mungkin benar. Tapi apakah sesederhana itu? Rasanya tidak. Seolah ada sesuatu yang ia sembunyikan di balik ego yang rapuh. Atau mungkin itu hanya cara bertahan.
Perlahan, cahayanya meredup. Ada banyak hal yang terasa keliru, dan ia pun membuat kesalahan. Sebelum semua itu, ia pernah beberapa kali menangis, mengaku merasa dicintai oleh para member. Apakah itu tulus, atau sekadar akting? Sulit dibedakan—ia seorang aktor yang baik. Namun saat ia mengatakan semuanya hanya sebatas pekerjaan, entah mengapa aku juga tak sepenuhnya percaya.
Suatu hari, ia mencoba mengakhiri hidupnya—meski akhirnya gagal. Peristiwa itu menjadi titik balik. Ia mengambil keputusan yang lebih besar: meninggalkan grupnya, menutup bab itu dengan sebuah lagu perpisahan yang menyesakkan dada.
Skenario baru pun ia pilih. Pergi “ke bulan”, dengan segala risiko yang kita tahu—menghilang di angkasa, dalam bayangan tentang jasad yang tak pernah ditemukan. Mungkin itulah yang ia inginkan saat itu: lenyap sendirian, tanpa jejak. Namun Tuhan berkehendak lain. Ia tetap ada di sini.
Kini, saat grupnya kembali, ia pun muncul lagi—membawa banyak pertanyaan dari berbagai arah. Belum jelas pola langkahnya ke depan, tetapi kita tetap merasa lega melihatnya kembali. Meski begitu, ia tak pernah lagi menyinggung grup yang telah bersamanya sejak remaja.
Apakah mungkin ia menghapus semua kenangan itu?
Rasanya tidak. Dan mungkin, memang tak akan pernah bisa.