SECANGKIR KOPI
Kata orang mencintai
orang lain itu indah dan berjuta rasanya. Ya, aku dulu juga pernah
merasakannya. Tapi itu sudah lama berlalu. Kalau dipikir lagi itu adalah
terakhir kalinya aku jatuh cinta pada seorang pria. Aku hanyalah gadis biasa
yang tidak terlalu menarik dan tidak memiliki keahlian khusus. Hidup ku benar
benar sederhana dan biasa saja. Kalau dibandingkan dengan dulu, tentu hidupku
sekarang jauh lebih baik. Aku sedang dalam tahapan melupakan masalalu ku yang
kelam karena mantan kekasihku. Dalam artian aku sedang menata hatiku lagi agar
aku bisa mencintai orang lain nantinya. Hidup dengan hati terluka dan membeku
sungguh tidak normal ku rasa. Layaknya zombi yang hanya bisa bergerak tanpa
tahu tujuan.
Hari ini seperti
hari-hari biasanya, aku pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi buku
untuk karyaku berikutnya. Aku seorang peneliti amatir, dan saat ini aku sedang
mengerjakan sebuah penelitian tentang jenis-jenis kopi yang ada di Indonesia. Perpustakaan
tidak begitu ramai. Ada beberapa orang yang berkerumun di rak memasak.
Kelihatannya mereka sedang mencari bahan untuk mengerjakan tugas tata boga.
Terdengar suara lirih mereka dari tempat aku berdiri yang jaraknya hanya 1,5
meter. aku berjalan lagi ke rak pertanian. Ada seorang pria yang sedang berdiri
di sana. Ia tengah mencari sebuah buku yang sepertinya sulit didapatkan. Ia
mencari dengan teliti di setiap sudut rak dan memilah buku di depannya dengan
hati-hati. Pria itu nampak kikuk setelah kehadiranku. Buku yang ditangannya
jatuh ke lantai. Aku membantunya mengambil buku-buku itu dan sekilas melihat
judulnya. Buku yang sedang aku cari ada di sana.
“Kau masih akan
membacanya?” tanyaku sambil memberikan buku-buku itu.
“Mungkin aku akan
meminjamnya,” jawabnya.
“Bisakah buku ini
untukku?” aku menunjuk pada buku yang berjudul Kopi Toraja yang ada di tumpukan
paling atas. Pria itu mengernyitkan dahinya dan pergi begitu saja. Pria apa
ini? Kenapa tidak mau berbagi? Aku tak mau kehilangan buku itu dan berjalan
mengikutinya dari belakang. Pria itu duduk di bangku paling ujung dan aku duduk
di sebelahnya.
“Aku sedang
membutuhkan buku itu. Bagaimana kalau kita barter?”
“Barter?” tanyanya
singkat dan dengan nada sedikit menyebalkan.
“Aku akan mencarikanmu
buku yang kamu inginkan, meski itu buku susah dicari, bagaimana?”
“Kau bisa meminjam ini
minggu depan kan?” tandasnya sedikit kesal.
“Sayangnya aku tidak
punya banyak waktu.”
Pria itu berfikir sesaat
dan akhirnya ia berkata, “Oke baiklah. Tapi buku yang aku cari sangat sulit
jika memang kau tidak punya waktu maka biarkan saja. Minggu depan aku akan
meminjam buku ini.”
“Kau yakin kalau aku
akan mengembalikannya?” aku sedikit menggodanya dan mengambil buku kopi itu
dari hadapannya. Aku mengambil kertas dan pulpen dari dalam saku kemejaku dan
menuliskan nomor teleponku.
“Hubungi aku jika kau
ingin ku carikan buku mu itu.” Aku pergi meninggalkannya sendirian di sana dan
menyelesaikan urusanku. Mungkin dia juga tidak akan menghubungiku.
Malam ini aku membaca
buku ini di sebuah cafe di dekat rumahku. Tempatnya nyaman. Inspirasiku sering
muncul kalau aku berada di sini. Tak lama sejak aku membaca halaman ke 65,
telepon genggam ku berdering. Di layar tertera nomor yang panjang dan aku tidak
kenal.
“Halo?” nadaku
datar.
“Hei, ini aku
Rei.”
“Rei siapa?” aku
merasa tidak memiliki kenalan bernama Rei.
“Orang yang kau rampas
bukunya tadi.”
“Oh, ya, ada
apa?”
“Apa kita bisa
bertemu? Aku lupa ada materi yang harus aku catat di literatur itu. ini untuk
tugas kuliah ku besok,” suaranya terdengar panik.
“Oh ya, datang saja ke
Birth Cafe. Aku ada di sani sekarang. Kau bisa mengerjakannya juga.”
“Oke, aku akan kesana.”
Setengah jam kemudian Rei datang dengan membawa leptopnya. Dia sangat panik
saat datang dan hampir saja menumpahkan minumanku dan mengenai celana jeansku.
“Sorry, aku
terburu-buru,” ujarnya sambil membantuku membersihkan noda kopi dengan tissue meja.
“Nodanya pasti susah
hilang,” ujarnya menyesal.
“It’s Okey,” aku
mengambil tissue yang ada di tangannya dan membersihkan sendiri celanaku. “Sebenarnya
bajuku sering terkena noda kopi seperti ini,” tambahku.
“Jadi kau seorang yang
ceroboh?” tanyanya sedikit bercanda.
“Well ya,” ujarku
sambil tersenyum.
“Oh, iya, Rei,” dia
mengulurkan tangannya dan aku menjabat tangannya.
“Mia.” Aku meminum
kopi ku yang masih tersisa dan kemudian meletakkan cangkir yang telah kosong di
atas meja yang telah kubersihkan sebelumnya.
“So, apa yang ingin
kamu kerjakan?” tanyaku.
“Oh, ya,” ia menyalakan
leptopnya dan membuka tugasnya. “Aku sedang mengerjakan makalah tentang kopi
terbaik Indonesia dan sebenarnya buku yang kau ambil dariku tadi siang itu
adalah buku terakhir yang akan menjadi literaturku. Aku sudah mencatat beberapa
bagian, tapi ada yang terlewati kurasa.”
Aku menutup buku
tersebut dan mengarahkan padanya sembari berkata, “Jadi kamu kuliah di teknik
pertanian?”
“Ya, kau tepat sekali.
Lalu kau?”
“Aku hanya pecinta
kopi sepele,” candaku malam itu yang membuat kami menjadi teman.
Awal mula sebuah
cerita adalah pertemuan. Aku menunggu pertemuan seperti ini dalam hidupku.
Pertemuan dengan seorang teman yang bisa mengerti kita apa adanya. Teman itu
tidak bisa tergantikan dengan apapun bila dijaga dengan baik. Aku juga akan
menjaga pertemanan dengan Rei ini.
Kami berjanji bertemu
di Birth Café hari ini. Aku selalu dating lebih dulu daripada Rei, begitupula
dengan pertemuan kelima ini. Aku memesan kopi Toraja hari ini dan memesankan
Rei secangkir teh chamomile hangat karena ia tidak menyukai kopi. Sejauh ini,
itu yang aku tahu.
“Hei,” sapa Rei saat
ia melihatku. “Udah pesan?”
“Yup.”
Kami berbincang
tentang aktivitas kami hari ini sampai pelayan dating membawa minuman yang
kupesan tadi. Pelayan meletakkan kopi toraja yang berbau harum itu dihadapan
Rei dan teh chamomile dihadapanku. Rei mengangkat cangkir kopi itu, kupikir dia
akan memberikannya padaku tapi aku salah. Rei malah menyeruput kopi tersebut
padahal kopi itu masih panas.
“Panaas,” katanya
sambil meletakkan cangkirnya.
“Kau harus menunggunya
sedikit lagi,” ujarku terkekeh. “Kenapa tiba-tiba kamu minum kopi?”
“Ini memang pertama
kalinya aku minum kopi, aku tergoda aromanya.”
Mungkin hanya
prasangkaku saja, tapi kurasa Rei meminum kopi itu karena aku menyukainya. Ada perasaan
lain saat itu yang membuat hatiku berbunga-bunga.
Hari demi hari
berlalu. Kami semakin akrab. Kami banyak bertukar pendapat tentang berbagai
hal. Sesuatu yang jarang sekali terjadi padaku saat bersama dengan lawan jenis.
Perasaanku juga mulai perubah padanya. Tapi ego ini tidak boleh lebih besar
dari ikatan persahabatan ini. Aku mencoba meredamnya setiap hari, setiap detik
karena aku tak akan lama berada di sini. Tak ada yang tahu berapa lama
seseorang akan berada di tempat yang sama. Sehari, seminggu atau setahun.
Sampai saat itu tiba, biarkanlah persahabatan kami menjalani ceritanya.
Aku memasuki gudang
rumah yang berdebu. Aku sedang mencari buku yang akan kuberikan pada Rei, buku
yang kutulis sendiri. Disini banyak sekali buku karena rumah kami terlalu kecil
untuk meletakkan semua buku-buku ini. Sebenarnya kami ingin membuat sebuah
ruangan khusus yang nantinya akan dihuni oleh buku-buku ini tapi entah kapan
akan terwujud. Aku mencari buku itu dari kardus satu ke kardus lain. Seharusnya
ayah menyimpan buku-buku itu sesuai abjad jadi akan lebih mudah saat mencarinya
seperti ini.
Sudah sejam aku
mencari tapi tak menemukannya juga. Tinggal kardus terakhir yang ada di sudut
ruangan yang belum aku periksa. Mungkin saja ada di dalam kardus itu.benar
saja, akju menemukan buku itu disana. Aku terhuyung-huyung saat pergi ke kamar
karena terlalu lama mencari.
Aku melihat kalender
yang ada di dinding kamarku dan tersenyum kecut saat melihat catatan tanggal 6
Januari, besok.
Rei pergi ke Birth Café
sesuai permintaanku meskipun ia tak akan menemukanku disana. Dia hanya akan
menemukan sebuah buku dengan sampul warna biru yang sedikit using. Buku tentang
sebuah kisah cinta yang tak pernah dimulai agar tak ada yang berakhir. Ia juga
akan menemukan sepucuk surat yang kutulis untuknya secara khusus.
Kata orang habis gelap
terbitlah terang. Aku menunggu lama untuk mendapatkan kalimat itu dan sejak
hari itu kamulah terang itu bagiku dan aku tidak bisa memungkirinya lebih
lama lagi. Aku harap kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti. –Mia-
Aku sedang dalam
pesawat menuju London untuk menyelesaikan pendidikanku yang telah terdunda
setahun belakangan ini. Aku menatap nanar keluar jendela pesawat dan
membayangkan apa yang sdang dilakukan Rei disana.
Rei duduk sendirian
dan membaca buku dan surat yang ditulis Mia untuknya. Setelah membacanya, ia
meneguk kopi yang telah ia pesan sebelumnya dan berkata, “Aromanya harum,
rasanya pahit tapi terasa manis diakhir. Ya, memang seharusnya begitu.”
-SELESAI-
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Cerpen #MyCupStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com