DALAM HUJAN
Musim hujan datang lebih cepat. hari
yang tadinya cerh tiba-tiba saja dirundung mendung. Angin yang berhembus tidak
hanya membawa kesejukan tapi juga membawa awan hitam yang siap mengguyur kota
dengan air. Petir mulai menyambar dan membuat beberapa siswa di SMA Bhakti
ketakutan, begitu pula dengan Mei. Gadis manis, bertubuh mungil dan berambut
sebahu ini begitu kaget saat kilatan petir bergurat di atas langit.
“Gimama kita bisa pulang Mei? Bentar
lagi kan jam pulang sekolah,” tanya dyah, teman sebangku Mei.
“Semoga hujan belum turun Yah. Rumah
aku kan jauh. Aku gak bawa payung pula,”
jawabnya lirih agar guru yang sedang mengajar di depan kelas tidak mendengar
percakapan mereka. Petir beberapa kali menyambar dan membuat Mei menutup
telinganya. Beberapa saat kemudian hujanpun turun. Mei mulai khawatir kalau ia
akan pulang terlambat hari ini. Lagipula hujan itu tidak bisa diprediksi kapan
akan berhenti.
Bel pulang berdering. Murid-murid
bergegas pulang karena hujan masih gerimis. Ada yang dijemput oleh orang
tuanya, membawa kendaraan sendiri, naik angkutan umum bahkan ada yang jalan
kaki. Dan Mei adalah salah satu dari mereka yang naik angkutan umum. Jarak
antara tempat tinggal Mei dan sekolah cukup jauh. Dia harus dua kali berganti
angkutan umum dan dilanjutkan berajalan kaki selama 5 menit untuk sampai ke
rumahnya.
Tidak sulit mendapat angkutan umum
dari sekolah Mei. Dia menaiki angkutan yang sudah setengah penuh di depan
sekolahnya. Hujanpun mulai berubah deras. Mei berharap hujan akan berhenti
sebelum dia turun. Angkutan itu akhirnya melaju setelah Mei dan beberapa murid
SMA berada di dalamnya. Setelah 10 menit, Mei menghentikan angkutan itu untuk
melanjutkan perjalanan dengan angkutan yang menuju kea rah tempat tinggalnya.
Ia berteduh sebentar di halte bus dan kemudian naik angkutan yang baru saja
behenti di depannya.
Hujan belum menunjukkan tanda-tanda
akan berhenti. Mei pasrah jika nanti akan basah kuyup. “Seragam satunya sudah
di cuci apa belum ya? Ini kan masih hari Senin. Kalau belum besok pake saragam
apa ini?” tanyanya dalam hati.
“Stop, Pak,” Mei menghentikan
angkutan setelah sampai di sebuah pasar. Ia membayar ongkos dan kemudian
bergegas turun dari angkutan. Mei mengangkat tasnya dia atas kepalanya. Matanya
bergerak mencari tempat berteduh dan tertuju pada sebuah warung yang sudah tak
terurus lagi yang berada tepat didepannya. Tanpa pikir lagi ia segera berlari
kesana karena hujan malah semakin deras. Seragamnya sudah setengah basah.
Sepatunya penuh dengan air. Ia memeriksa isi tasnya berharap menemukan sandal
atau kantung plastic untuk membungkus sepatunya yang basah tapi ia tak
menemukan apapun kecuali buku-buku pelajarannya yang lembab.
Mei mengerutkan wajahnya dan
memandangi air yang jatuh dari langit. Tangan lembutnya mulai memainkan air yang
terus jatuh itu. Tanpa ia sadari, ada seseorang yang tengah berdiri tak jauh
dari Mei. Seorang pria 20 tahunan yang tinggi, berkulit putih dan juga tampan.
Ia memperhatikan Mei dengan seksama kemudian tersenyum geli melihat tingkah Mei
yang seperti anak kecil.
Mei mulai menyadari kalau ada
seseorang yang sedang berteduh di sana juga. Ia menoleh kearah pria itu dan
pada saat bersamaan pria itu mengalihkan pandangannya dan juga senyumnya pada
Mei. Saat melihat wajah pria itu, Mei seperti pernah melihatnya di suatu
tempat, tapi entah dimana. Mei sama sekali tidak bisa mengingatnya.
“Orang ini seepertinya pernah
bertemu, tapi dimana? Haruskah aku menanyainya? Tapi SKSD banget,” gumamnya
dalam hati.
Suasana menjadi hening. Mei tak lagi
memainkan tetesan hujan. Ia bersandar di tembok warung yang catnya sudah kusam.
Pria itu juga sama. Ia bahkan menutup matanya karena mulai mengantuk. Akhirnya
hujan mulai reda. Mei bergegas pulang karena hari sudah senja tanpa menoleh
kearah pria yang membuka matanya dan tersenyum saat memandang Mei pergi.
Sesampainya di rumah, Mei segera
menjemur seragamnya dan buku pelajarannya dan juga membersihkan dirinya. Ia
terfikir lagi tentang pria yang tadi berteduh di tempat yang sama dengannya. Ia
yakin sekali bahwa ini bukan pertama kalinya ia bertemu dengan pria itu.
“Semoga bisa bertemu lagi dengan orang itu,” cetusnya.
Keesokan harinya Mei jadi
harap-harap cemas apakah hari ini akan turun hujan lagi atau tidak. Cuacanya
tidak mendung tapi juga tidak cerah. Secara tidak sadar, Mei berharap hari ini akan turun hujan lebat agar dia bisa
berteduh di tempat yang sama. Berteduh menunggu hujan reda. Berteduh bersama
orang yang sama.
“Kenapa aku berfikir seperti itu
ya?” tanyanya dalam hati lalu tersipu malu.
“Kenapa Mei? Kok kamu senyum-senyum
sendiri?” tanya Dyah yang merasa gelagat Mei sangat aneh.
“Enggak Yah. Cuma aku kemarin ketemu
cowok ganteng banget. Tapi bukan itu sih point pentingnya.”
“Terus kalau bukan itu apa?”
“Mukanya itu familiar banget.
Kayaknya pernah ketemu dimana gitu sama masnya.”
“Dalam mimpi kali?” ledek Dyah.
“Ya enggak lah Yah,” ujar Mei sambil
mencubit pipi sahabatnya yang cubby. “Moga-moga ketemu dia lagi ya,” ujarnya
lagi sambil tersenyum.
Sepertinya Tuhan mendengarkan doa
Mei. Awan-awan mulai menghitam dan petir mulai menyambar. Mei yang biasanya
cemas dan takut jika hujan turun kali ini berbeda. Wajahnya terlihat begitu
puas dan senang sampai-sampai jantungnya berdegup kencang. Ini pertama kalinya
ia merasakan hhal seperti ini, benar-benar pengalaman pertamanya.
“Yah, aku duluan ya,” kata Mei saat
bel pulang berbunyi.
“Cepet banget? Masih hujan Mei,”
Dyah mencoba menghentikan Mei karena hujan masih sangat lebat namun Mei tak
menghiraukannya.
Seperti biasa, mei tak membutuhkan
waktu lama untuk mendapat angkutan umum yang menuju rumahnya. Setelah melewati
rute yang biasa ia lewati, ia turun di pasar dekat rumahnya dan matanya
langsung mendapati pria itu di warung yang sama. Mei bergerak ke sana dengan
alasan menunggu hujan reda.
Pria itu tengah asik membaca sebuah
buku. Mei mencuri-curi pandang untuk melihat sampul buku itu tapi sepetinya itu
adalah buku biasa. Tiba-tiba saja ponsel pria itu berbunyi. Ia meletakkan
bukunya di atas meja yang entah sejak kapan berada di sana.
“Iya Ma?” kata pria itu saat
menjawab teleponnya. Mei juga berkonsentrasi untuk mendapatkan informasi
tentang pria itu. Minimal ia tau siapa nama pria itu.
“Enggak, Adit masih kejebak hujan.
Nunggu reda dikit, Ma.” Mei mengangguk-angguk saat mendengar Adit menyebutkan
namanya.
“Jadi namanya Adit,” pikir Mei.
“Iya, Ma. Beres deh,” jawab Adit saat
mengakhiri percakapan dengan ibunya di telepon.
Dalam hati, Mei sangat girang. Ia
bisa tahu siapa nama pria itu dan juga bagaimana suaranya. Suara Adit yang
berat dan serak memenuhi pikiran Mei secara tiba-tiba. Entah apa yang terjadi
sebenarnya tapi sejak pertemuannya dengan Adit kemarin hati Mei jadi
berbunga-bunga. Bibirnya selalu tersenyum senang. Dan sekarang perasaan grogi
sedang menghinggapinya saat ia bertemu dengan Adit. Wajahnya sekarang berubah
merah padam. Telingganya tersa panas dan jantungnya berdegup sangat kencang.
“Apa ini efek karena mengetahui nama dan juga mendengar suara Mas Adit?”
Di tengah rasa grogi Mei, Adit pergi
meninggalkan tempat itu. ia masuk ke dalam pasar. Sepertinya ada sesuatu yang
harus ia lakukan setelah ibunya menelpon tadi. Tapi ada sesuatu yang Adit lupa,
buku yang ia letakkan di atas meja. Mei yang melihat buku itu langsung
menggambilnya dan membaca isi buku itu. Ia tercengan melihat isi buku yang
dibaca oleh Adit tadi. Mei memeriksa halaman per halaman dan isinya dalah sama,
puisi.
“Jadi ini kumpulan puisi? Tapi dia
kemana? Boleh ya aku baca sambil nunggu dia balik ke sini?” ujarnya.
Mei membaca buku itu
dengan seksama. Buku dengan tulisan yang rapi dan puisi yang begitu menyentuh
hati. Buku itu sangat mengagumkan bagi Mei. Ia belum membaca seluruh halaman
tapi ada satu puisi yang jadi favoritnya dengan judul Salju.
SALJU BEKU
Tatkala hati melintasi
pikiran
Menjamu angan yang kian
melayang
Meramu asa yang terus
terbayang
Lambat laun sesal terasa
Hati bergeming bagai
manara guncang
Mematung di jalanan
Melantunkan nada yang tak
kunjung usai
Bagai ratapan sang
teraniaya
Menyapu angin dalam hening
Membuat daun jatuh
berguguran
Bergeming dalam lara
ketidakpastian hati
Terpasung sedemikian rupa
Member harapan yang kian
semu
Tempat hangat berubah
dalam sekejab
Dalam kegelapan bagai
lautan salju beku
“Ini keren banget,” pekik Mei. “Tapi
Mas Adit kemana sih? Kok gak balik juga? Hujan juga udah berhenti. Ini buku aku
bawa pulang apa ditaruh sini aja ya?” Mei gusar. Ia meletakkan buku itu di atas
meja tapi kemudian ia ambil lagi. “Kalau dia balik, kalau dia udah pulang nanti
bukunya malah hilang. Kan sayang.” Akhirnya Mei memutuskan untuk membawa serta
buku milik Adit itu bersamanya.
Hari ini hujan turun lagi. Mei
berteduh di warung itu seperti biasa. Ia mengeluarkan buku Adit dari tasnya.
Jika nanti Adit berteduh di sini, Mei berniat untuk mengembalikan buku itu. ia
bahkan memberikan sampul plastik agar buku itu tidak lecek dan lusuh.
Sudah setengah jam hujan turun tapi
tak ada tanda-tanda keberadaan Adit. Mei mulai cemas. Mungkin Adit tidak kesini
hari ini. Lagipula untuk apa dia setiap hari pergi ke pasar ini. tapi jika ia
tidak bertemu Adit, bagaimana caranya ia mengembalikan buku itu. pada akhirnya
Mei pulang tanpa bertemu dengan Adit. Ia sesekali menoleh ke warung tempatnya
berteduh, berharap Adit tiba-tiba muncul tapi harapannya tak jadi nyata.
Mei berbaring di tempat tidurnya. Ia
membuka-buka buku itu, mungkin saja ada alamat yang bisa ia ketahui. Sayangnya
sampai halaman terakhir tak ada tulisan tentang biodata si penulis, Adit.
“Gimana ini? Apa seharunya waktu itu
aku gak ambil buku ini?” tanya Mei pada dirinya sendiri dengan gusar. “Pasti
Mas Adit kelimpungan nyariin buku ini. Mudah-mudahan besok ketemu.”
Mei merasa ada yang bergetar
disampingnya. Ia melihat ponselnya dan mendapati nama Dyah di layar ponselnya.
“Ngapain dyah nelpon malem-malem gini?” tanya Mei sembari menerima panggilan.
“Halo Yah, ada apa? Tumben malem-malem gini nelpon?”
“Kamu gak denger pengumuman tadi?”
“Pengumuman apa?”
“Ah, kamu sih buru-buru pulang
melulu. Tadi itu ada pengumuman kalau dua hari lagi kita ada study tour ke
Bali.”
“Eh? Kok mendadak Yah?” tanya Mei
kaget.
“Iya, kata Bu anis seharusnya masih
seminggu lagi. tapi berhubung minggu depan ada acara lomba karya ilmiah
nasional jadi dimajuin. Kan sekolah kita jadi tuan rumahnya,” jelas Dyah.
“Kok aku gak tau ya Yah?”
“Makanya jangan ngurusin mas siapa
itu namanya? Adi?”
“Adit!”
“Ah iya itu. kita tiga hari di
sana.”
“Lama bener tiga hari? Oke deh.
Makasih ya infonya.”
Mei memutuskan panggilannya. Ia
sedikit kecewa karena selama tiga hari akan pergi ke luar kota jadi ia tidak
bisa bertemu Adit dan mengembalikan buku itu. “Mas Adit, maaf ya.”
Tiga hari telah berlalu. Mei
dijemput Ayahnya dari sekolah karena barang bawaannya banyak sehingga tidak
mungkin untuk naik angkutan umum. Mobil ayah melaju melewati pasar. Mei
mendapati ada sesuatu yang berbeda di sana. Warung yang sudah tidak terurus
yang jadi tempat berteduhnya selama ini telah berubah. Warung itu kini lebih
cantik dengan cat berwarna hijau. Dinding depan berganti dengan jendela kaca
yang besar. Di halaman depannya terdapat dua buah kursi dan sebuah meja.
“Pa, itu toko baru?” tanya Mei.
“Iya, baru buka kemarin. Itu toko
roti. Kemarin waktu grand opening ada tester gratis terus Mama mampir kesitu.
Katanya rotinya enak-enak sih, tapi Papa belum sempet nyobain. Emang kenapa?”
“Enggak apa-apa kok Pa.” ujar Mei.
Mei sempat melihat siluet Adit di
dalam toko dan juga sebuah motor yang terparkir rapi di luar. Motor berwarna
kuning yang juga familiar dimatanya. Mei mulai teringat sesuatu tentang motor
itu tapi semuanya masih sangat samar.
Ayah Mei menghentikan mobil di jalan
turunan. Karena akses jalan yang sempit, mobil harus bergantian melewatinya.
Mei melihat mobil yang melewati mobilnya dengan perlahan. Ia seperti de javu.
“Jalan ini? Motor?” tanya Mei
tercengang. Saat itu juga ia ingat tentang sebuah motor dan pengendaranya.
Ingatan saat dia masih SMP kembali menghinggapinya. Saat itu dia sedang
berjalan menuju rumahnya seperti biasa. Di jalan yang sama dengan jalan yang ia
lewati sekarang, ada sebuah motor yang melaju. Saat itu di jalan hanya ada dia
dan juga pengendara motor itu. Saat berpapasan dengan Mei, pengendara motor itu
terus saja melihat ke arah Mei. Mei yang masih polos melihat ke arahnya juga.
Mereka terus berpandangan sampai keduanya mengambil belokan dan tak terlihat
lagi satu sama lain. Kala itu Mei hanya berfikir kenapa orang itu melihatnya
seperti itu.
Mei mengingat kejadian itu sekali lagi. Ia memejamkan mata dan
meyakinkan diri bahwa motor yang diapaki pengendara itu adalah motor yang sama
dengan motor yang terparkir di depan toko roti dan pengendaranya adalah ADIT!
“Tatapan itu, tatapan mata itu
beneran Mas Adit?” Mei benar-benar terkejut. “Jadi orang itu Mas Adit? Beneran
Mas Adit?” Mei masih tidak percaya dengan ingatannya. Ia membuka tasnya dan
mengambil buku puisi Adit. Ia membuka dua halaman terakhir. Di dalamnya ada
puisi yang baru saja ditulis oleh Adit dengan tanggal 26 Desember.
DALAM HUJAN
Jalan itu masih saja
berhamburan
Tatapan itu masih terus
menatapku dalam diam
Hujan ini begitu
menyejukkan
Hingga hati ini berdendang
riang
Jika aku hatimu pasti kita
akan bertemu
Jika kamu hatiku pasti
kita kan bersatu
Ini rahasia Tuhan
Tapi ini juga rahasia
besarku
“Puisi ini bukankah sangat mirip?
Tanggal 26. Aku dan dia bertemu tanggal 25 Desember kan? Berarti dia,” Mei
menebak-nebak apa yang terjadi dan siapa Adit. Ia tak bisa menyembunyikan rasa
bahagianya. Ia tertawa begitu keras karena semua isi pikirannya.
“Kamu itu kenapa sih Mei? Kok
ketawa-ketawa gitu?” tanya Ayah Mei yang kaget dengan tawa keras Mei.
“Mei menang lotre, Pa,” jawab Mei singkat
sambil tertawa.
“Jaman sekarang masih ada lotre?”
gumam ayah Mei.
Sesampainya di rumah, Mei segera
memasukkan barang-barangnya ke dalam kamar. Ia langsung berpamitan pada kedua
orang tuanya untuk pergi membeli roti. Ia membawa buku pusisi milik Adit. Ia
tak sabar ingin segera bertemu dengan Adit sampai-sampai ia berlari agar cepat
sampai pasar.
Sesampainya di sana, Mei mengontrol
emosinya. Ia berusaha untuk tampak sewajar mungkin. Ia memantapkan hati untuk
masuk ke dalam toko roti yang masih belum jelas ada Adit atau tidak di
dalamnya. Mei membuka pintu toko dan melihat Adit berada di balik meja kasir.
Adit tersenyum ramah pada Mei yang baru saja datang. Mei membalas senyuman Adit
dengan senyum manisnya dan mendekati meja kasir.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya
Adit ramah yang membuat hati Mei meleleh.
“Saya mau mengembalikan ini,” Mei
menyerahkan buku yang ia bawa pada Adit. “Ini punya Mas kan? Waktu itu ketinggalan,”
ujar Mei malu-malu.
Adit menerima buku itu dan memeriksa
isinya. “Ah, iya. Makasih ya udah mau balikin, Mei.”
Mei terbelalak karena Adit mengetahui
namanya. “Kok Mas tau nama aku?” tanya Mei heran.
“Kamu belum baca halaman terakhir?”
tanya Adit serius.
Mei menggeleng dan tersenyum. Adit
tidak percaya kalau mei belum membaca halaman itu dan kemudian memukul
kepalanya dengan buku itu perlahan sambil tersenyum juga. Mei telah membaca
puisi di akhir halaman setelah ia sampai di rumah. Puisi yang berjudul Untuk
yang begitu menggambarkan sosok Mei. Puisi indah yang tak mungkin Mei lupakan
samapi kapanpun.
SELESAI
thank's for reading this. :)
ini cerpen kesekian yang baru bisa di post. banyak banget kekurangannya, tapi saya akan berusaha untuk menulis lebih baik lagi