Tuesday, 15 July 2014

[PUISI] Di Sudut Hati

Hari mulai senja
Tak menyisakan waktu sedikitpun
Untuk merasakan hangatnya matahari
Tetes-tetes hujan berjatuhan dari langit yang gelap
Tanpa sebab membuat mata ini sembab
                   
Aku memandangnya di tempat itu
Mengenang semua yang telah terjadi
Pada musim hujan setahun yang lalu
Musim hujan
Yang telah merubah hati dan juga pikiranku

Entah mengapa
hal itu menjadi sesuatu yang amat dahsyat
Haruskah aku bersyukur?
Atau aku harus menyesalinya?

Bersama dengan aliran air itu
Aku pergi meninggalkannya sendiri
Di tempat aku berdiri saat ini
Bukan karena aku membencinya
Tapi karena aku amat menyayanginya
Bukan karena aku menghindarinya
Tapi karena aku bersamanya
Untuk menghadapi dunia dihadapannya

Meskipun hatiku tertusuk sangat dalam
Sekalipun jantungku terkoyak amat menyakitkan
Karena aku tak bisa melakukan hal lain selain pergi
Untuk menyelamatkan hidupnya.

Dia menatapku begitu dalam
Sorot matanya penuh keraguan dan tanda tanya
Tetapi, dia tak menghalangiku selangkahpun
Ia masih menatapku hingga saat ini
Tatapan yang sama
Tatapan yang amat kurindukan
Tatapan yang sama
Tatapan yang amat mendamaikan hati

Tetapi, tak ada yang tahu
Seperti apa dalamnya cintaku padanya
Tetapi tak ada yang peduli
Seberapa besar cintanya padaku
Dan tak ada satupun yang peduli
Betapa menderitanya aku dan dia
Karena perpisahan yang amat terpaksa ini.

Maaf, maafkanlah aku
Entah apa yang kulakukan
Aku tak tahu sedikitpun
Maaf, maafkan aku
Entah apa yang sedang terjadi
Aku tak mengerti sama sekali
Tapi ketahuilah
Bahwa aku akan selalu merindukanmu
Hanya dirimu

Aku tidak tahu siapa yang kuhadapi
Kawan atau lawan
Jika kawan
Mengapa mereka membiarkan semua ini terjadi? Mengapa mereka tak mengerti perasaan kami? Mengapa mereka mencaci semuanya?
Tak ada yang menjawabnya
Hngga aku berdiri di sini
Bersama tetesan hujan.
Berkali-kali aku memandangnya
Beberapa saat setelah kejadian menyakitkan itu
Berkali-kali pula dia membalas pandanganku
Dengan tatapannya yang amat sangat kurindukan

Hujan turun lagi
Kala itu begitu lebat
Seperti hatiku yang sedang tak karuan
Hujan memaksa kami tetap berada di tempat itu
Di ruang kelas bersama dengan yang lain
Aku tak tahan
Tapi air mata ini tak pernah bisa keluar lagi
Dari sudut mataku

Ingin sekali berteriak
Tapi suara itu tak keluar lagi dari bibirku
Aku terlalu lelah untuk melakukannya
Aku tak sanggup lagi untuk itu semua

Hatiku hanpir mati
Aku hampir saja menjadi mayat hidup
Tapi mereka tetap tak peduli
Mereka tetap tertawa di setiap sudut ruangan
Mereka tetap tak peduli betapa terpuruknya diriku
Mereka tak pernah tau betapa menderitanya hatiku

Cinta ini pasti akan sirna
Tapi entah kapan
Cinta ini pasti akan terganti
Tapi aku tak tahu oleh siapa
Namun, sebelum semuanya terjadi
Aku akan tetap mengingat semua ini
Dan bila semua itu terjadi
Akan ku simpan kenangan itu
Dalam bingkai emas hatiku

Cintaku, cinta pertamaku hilang
Kutinggalkan karena kawan yang menghadang
Cintaku musnah didera kecemburuan yang sia-sia
Sadarkah mereka?

Hujan telah berhenti
Aku pergi dari tempat
Dimana aku pergi meninggalkannya
Musim hujan setahun yang lalu
Aku tak ingin lagi ada disaat itu
Demi dia
Demi menjaga hatinya
Demi menyelamatkan hidupnya

Aku beranjak pergi
Tanpa memandang ke belakang
Karena dia tak mungkin ada di sana
Untuk menemuiku
Dan aku membiarkan hatiku
Untuk tertidur sejenak

Dalam bingkai emas hatiku

[PUISI] Isyarat

Dalam hal apa aku berpaling?
Benarkah ini sesuatu yang tepat untukku?
Menahan nafas dalam karenanya
Yang tak bisa terungkap
Dalam diam memandang dengan isyarat
Yang berharap ditemukan.

Kau membuat semuanya mudah
Dengan hati ceriamu
Suatu saat berbisik dalam hati
Tentang apa yang akan terjadi
Namun hanya kita yang tau rasa dalam hati ini
Aku tidak ingin membiarkan orang lain tahu
Tentang apa dan siapa sebenarnya dirimu
Namun semua terasa sia-sia saja

Bagaimana aku harus bertemu dengan mu besok? Haruskah aku memakai sebuah topeng
Pertanda kemalangan yang tak bisa memilikimu?
Harapan yang tak pernah muncul itu
Tak menjadi masalah buat ku
Asal kau tau bahwa aku ada di sini untuk mu.

Kisah yang memilukan
Tak jadi sebuah penghalang kebahagiaan
Sekalipun kau berpaling
Ttu takkan menjadi sebuah akhir
Karena aku tau bahwa kau tak kan mungkin
Melakukan hal bodoh seperti itu
Isyarat apa yang kau tunjukkan
Untuk siapa isyarat yang kau ekspresikan?

Dalam lingkaran ini
Aku bergerak tak beraturan
Terbang dari sisi ke sisi lain dalam dunia mu
Aku hanyalah sebuah zat
Yang tak bisa kau rasakan
Dalam hal apa kau mampu mengerti?

Nafas mu bukan untukku
Haruskah aku menyalahkan mu tentang semua ini? Jika aku sedang berlari atau kau sedang berlari
Arah mana yang akan menjadi tujuan
Jika bertanya dalam hati
Tak akan bisa dapat jawaban
Karenanya aku bertanya padamu
Dengan tatapan keraguan

Aku merasa memberi mu sesuatu
Yang sejak lama harus kau milki
Aku membutuhkan waktu yang lama
Untuk bisa memberikannya pada mu
Terbesit di benak ku
Bahwa kau akan menjadi seorang malaikat
Dengan sayap yang akan membawaku pergi
Dari tempat tak berdaya ini
Namun semuanya hanya sebuah kekosongan belaka

Sebuah titik terus berpindah
Membuatku mencari
Dengan keadaan yang aneh
Tak wajar
Diamlah dan rasakan zat ini

Zat yang sedang berputar di sekitar mu

Thursday, 10 July 2014

eyes nose lips my version

that is my thought that you can not translate
but that is also my freedom that you have never considered there
hey, I'm not slave over you
I was there
I'm real
I have gone but you remain the same
You said I did not mean anything but your grip say different things
hey, then what?
maybe you remember when I said my love will not disappear 

but don't you think if the time will erase everything
Did you know how much I cursed myself for not being able to be the best for you? 
Did you know how much I cursed my parents just to save you? 
and i am nothing for you
damn, i wish you hell
my anger will disappear over the time

but I can't face you anymore
not because I'm weak
not because I lost
but because I refrain from cursing you
love become reluctance and this is the best thing from a hatred

Who is responsible for this? 
am I? 
true I? 
you're still the same
gripping my freedom
damn, i wish you hell

Sunday, 6 July 2014

I always wonder to have my own ava like korean artist. Fans always make them cute and i really envy. Someday i reveal this to my sister and she give me help to realized that. So here it is, but it's not free lah, creativity always have cost

ADC part 2

udah sampe pasar senen sodara! sebenernya tiket kita sampe jatinegara aja sih cuma kejauhan kalo naik angkutan jadi nerus aja, maaf ya pak masinis, hehe. di pasar senen hal yang kita lakukan pertama kali adalah makan bro, laper. bontot udah pada abis di surabaya. abis makan sambil nunggu travel kita leha-leha dulu di sevel, itu minimarket di malang kagak ada, saya belum nyobain menu ayamnya xp.
pas travel udah jemput, kita langsung dianter ke penginapan yang notabene adalah sebuah kos-kosan eksklusive 3 lantai. kamarnya ber ac, kamar mandi tiap lantai ada 4, uwih, keren pokonya. dari sana kita leyeh-leyeh bentar terus mandi siap-siap dan langsung cus ke GBK buat ngumpul sama admin Runner se Indo, soalnya kita ngikutin kakak-kakak Admin Malang yang keceh itu. brasa lucky deh hari itu soalnya kita bisa ketemu lah secara gak langsung sama member running man. mobil mereka lewat persis di depan muka kita. kita langsung tebar banner dan HOREEE bannernya kebalik. Om Suk Jin smirk doang dari dalem mobil lita itu banner kebalik.
mereka main game dulu sih ya terus mereka balik lagi ke hotel sultan, katanya sih mereka nginep disono. nah pas mereka mau balik ke hotel, Jongkook keluar dengan kulit putihnya. itu sumpah stunning banget si Jongkook. orang korea yang sawomatang di screen seputih itu ya? weehhhh. tapi tapi tapi saya gak bisa nemuin Kang gary idola saya :( tapi gak papa lah ya, udah Alhamdulilah banget bisa ke GBK.
jadwalnya udah mau mulai dan kita harus antri tiket buat masuk ke venue. aku sama desi di kelas 2, yang lain pada mencar semua. di antrian kelas 2 Ya Allah ruwet banget! desek-desekan, pengap, sampe ada yang mau pingsan mbak-mbak di depan saya. saya juga takut sesek saya kumat sih tapi Bismillah aja waktu itu dan terus mikir positif biar gaka ada faktor predisposisi yang menyolong kesempatan buat ngambuhin asma saya. alhamdulillah dengan desakan-desakan itu saya bisa masuk venue meski sempat kehilangan si desi.. ehehe.
waktu masuk masih muterin lagu-lagu korea sih, penonton pada sing along aja sampe kedua tim masuk ke lapangan dan latihan. Kwang Soo bener-bener Asia's Prince. kita semua neriakin namanya Kwang Soo yang paling menonjol gara-gara tingginya ituh. masih keinget euforianya. dan saya baru tau kalo Indo masuk ep 200, itu spesial banget, gila. dengan ini aja udah fanservice yang keren banget gitu, bangga deh pokoknya. waktu pertandingan mereka mainnya bagus sih, cuma Suk Jin aja yang mengkhawatirkan, kesian baru bentar udah ngos-ngosan aja. tapi dia juga Gag di lapangan, padahalkan kagak boleh. golnya Jung Dae Se bagus loh, tapi mereka tetep kalah sama Tim Nas Indo, maap yak, Tim Nas Indo tetep yang terbaik meski Ibnu Jamil mainnya di ending doang, kuraaanngg kakak. di tenggah league juga Kwang Soo bikin wave yang biasanya itu. ah, dia bener bener pengorbanan sampe jatoh-jatoh segala gara-gara ngubengin GBKnya. tapi salut banget sama kerja kerasnya kwangsoo, daebak!
setelah pertandingan berakhir, berakhir juga waktu saya di jakarta, live must go on kan ya, jadi kita nunggu kakak admin sama temen-temen ngumpul di spot deket gerbang. diluaran masih full penonton, mereka mau liat timNas Indo sama Tim JS pulang. disana kliatan ayunya Jihyo, tetep Gary saya gak liat secara Live. waktu semua udah clear, kita cari makan dulu niatnya, meski saya udah kelelahan dan gak laper tapi demi kebersamaan kita cari makan di mall deket GBK tapi sayangnya udah pada mau tutup. ahhh, bete rasanya. akhirnya kita makan di pinggir jalan yang antriannya juga lumayan banyak. disitu kakak admin malang runners kecewa sama bapak travelnya karena kayaknya sih udah gak mau nganter-jemput diatas jam 11 malem. hem.. kakak admin jadi marah-marah. sabar ya kakak..
kita pulang ke kos dan prepare buat balik ke malang jam 5 pagi. dan kita naik taksi ke pasar senen karena bapak travel udah gak mau nganter kita lagi. oke fine, kita juga bisa lah yah ke pasar senen sendiri. dan akhirnya kita ke malang naik kereta maharani. itu kereta sepi jadi bisa leyeh-leyeh sepanjang hari tanpa takut kalo ada penumpang lain.. ahaha. sekian cerita dari saya, terimakaih bagi yang udah baca. kapan-kapan ke jogja naik KA yuk
:D



ADC part 1

hampir lupa share pengalaman nonton Running Man di GBK tanggal 2 Juni kemaren. jadi gini ceritanya, saya udah suka Running Man lama sih, cuma gak ada kepikiran kalo Running Man bakal main-main ke Indo. yah, dulu waktu Big Bang ke Indo ada pengalaman buruk sih soalnya gak bisa nonton ke Meis, tapi gak papa lah ya kan nanti juga mereka kesini lagi, mungkin *flat*.
so, waktu ada kabar kalo Running Man mau ke indo dengan acara Asian Dream Cup yang diadain oleh JS Foundation, saya semangat banget dan langsung cari info ke temen yang kebetulan Admin Malang Runners, Malang Runners ini komunitas pecinta game running man dan mereka rame banget orang-orangnya. nah dari sinilah saya makasih banget udah dibantuin dari beli tiket masuk, akomodasi juga penginapannya.
setelah tiket ADC di tangan itu rasanya nyesek banget sih soalnya harus nunggu tanggal 1 Juni buat berangkat ke Jakarta dan itu masih lamaaaa. tapi dibuat nyante aja sih ya.
kenapa berangkan tanggal 1 Juni? kan acaranya tanggal 2 juni, apa ga mepet? menurut saya sih mepet, tapi berhubung admin Malang Runners bisa berangkat tanggal 1 ya apa boleh buat, tapi kita juga berangkat pagi buta sih, jagi gak ngaruh juga. lama-lama di Jakarta juga ngapain kan ye, ahiii.
di hari H keberangkatan, kita kumpul di stasiun kota baru malang. ini nih yang bikin saya gak sabaran sebenernya, saya suka banget nge.KA. asik aja suasananya. kalo naik bus saya gampang mabuk darat sih :'(. dari pada di venue saya malah sakit dan gak enjoy nontonnya. tapi naik KA juga melelahkan, secara jarak Malang-Jakarta itu jauhhhh banget. nah dari kota malang tercinta ini kita ber sepuluh naik kereta menuju surabaya. karena kehabisan tiket jadi kita oper-oper gitu. jadi rutenya malang-surabaya-bandung-jakarta. pulangnya juga sama, jakarta-semarang-surabaya-malang. jadi total kita naik 6 kereta api. wow.
dari surabaya nyampe jam 7 pagi, disana kita sarapan dulu sambil nunggu kereta ke bandung yang berangkat sekita jam 9. istilahnya kita ngemper dulu sih, hehe.
waktu kereta udah sampe stasiun, kita langsung mau masuk dong. dan stasiun gubeng waktu itu penuuuhhh banget dan kita wajib antri sebagai warga negara yang baik. alhamdulillah lah gak sampe ketinggalan kereta segala. dari gubeng kita menuju stasiun kiaracondong, bandung. ditiap stasiun di kota besar kereta apinya berhenti buat nurunin dan ngangkut penumpang lagi dan waktu itu saya gak bisa move on dari Jogja.. ah, itu masih keinget bentuk stasiun dan drumband yang lewat waktu itu. saya pengen ke jogja jadinya tapi saya harus move on demi Running Man *apasih*
kita sehari semalem di ketera. capek banget. nyampek kiaracondong itu sekitar pukul 12 malam. disana kita disambut sama admin Runner Bandung, kita dikasih nasi goreng sama air mineral, ini berkat kekuatan admin Malang Runner yang jaringannya tanpa batas, hehe. sayang air mineralnya ketinggalan di kereta. dan kereta yang seharusnya ke stasiun jatinegara masih jam 1. disitu juga kita dapet kabar kalo kereta delay sampe jam 2, Oh My God, kita bermalem di stasiun deng udara yang menusuk tulang.
setelah nunggu sambil leyeh-leyeh dan menghilangkan lelah, kereta akhirnya dateng juga. buru-buru deh kita naik biar bisa istirahat di kursi KA-eko yang empuk dan nyaman. saya gak tau sih berapa lama waktu bandung-jakarta, tapi kita sampe pasar senen jam 10 pagi dengan segala keruwetan kota jakarta. bayangin aja jam 8 kita berhenti di tambun dan ada demo gede di stasiun. penumpang yang kecewa karena gerbong dikurangi malah TIDURAN DI ATAS REL! Oh My God. ini apa-apaan? kita yang kayaknya orang 'jawa' sendiri disana cuma plonga-plongo dan ngomel sendiri sama anak-anak di luar udah pada teriak-teriak, ngumpul di depan ruang kepala. anak-anak malah bilang kalo mereka liatin orang main takji.. ahaha. ada-ada aja deh. tapi akhirnya selesai juga demonya setelah sejam negosiasi. and it's Jakarta. panas.
-bersambung-


[CERPEN] DALAM HUJAN



DALAM HUJAN
Musim hujan datang lebih cepat. hari yang tadinya cerh tiba-tiba saja dirundung mendung. Angin yang berhembus tidak hanya membawa kesejukan tapi juga membawa awan hitam yang siap mengguyur kota dengan air. Petir mulai menyambar dan membuat beberapa siswa di SMA Bhakti ketakutan, begitu pula dengan Mei. Gadis manis, bertubuh mungil dan berambut sebahu ini begitu kaget saat kilatan petir bergurat di atas langit.
            “Gimama kita bisa pulang Mei? Bentar lagi kan jam pulang sekolah,” tanya dyah, teman sebangku Mei.
            “Semoga hujan belum turun Yah. Rumah aku kan jauh. Aku gak bawa  payung pula,” jawabnya lirih agar guru yang sedang mengajar di depan kelas tidak mendengar percakapan mereka. Petir beberapa kali menyambar dan membuat Mei menutup telinganya. Beberapa saat kemudian hujanpun turun. Mei mulai khawatir kalau ia akan pulang terlambat hari ini. Lagipula hujan itu tidak bisa diprediksi kapan akan berhenti.
            Bel pulang berdering. Murid-murid bergegas pulang karena hujan masih gerimis. Ada yang dijemput oleh orang tuanya, membawa kendaraan sendiri, naik angkutan umum bahkan ada yang jalan kaki. Dan Mei adalah salah satu dari mereka yang naik angkutan umum. Jarak antara tempat tinggal Mei dan sekolah cukup jauh. Dia harus dua kali berganti angkutan umum dan dilanjutkan berajalan kaki selama 5 menit untuk sampai ke rumahnya.
            Tidak sulit mendapat angkutan umum dari sekolah Mei. Dia menaiki angkutan yang sudah setengah penuh di depan sekolahnya. Hujanpun mulai berubah deras. Mei berharap hujan akan berhenti sebelum dia turun. Angkutan itu akhirnya melaju setelah Mei dan beberapa murid SMA berada di dalamnya. Setelah 10 menit, Mei menghentikan angkutan itu untuk melanjutkan perjalanan dengan angkutan yang menuju kea rah tempat tinggalnya. Ia berteduh sebentar di halte bus dan kemudian naik angkutan yang baru saja behenti di depannya.
            Hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Mei pasrah jika nanti akan basah kuyup. “Seragam satunya sudah di cuci apa belum ya? Ini kan masih hari Senin. Kalau belum besok pake saragam apa ini?” tanyanya dalam hati.
            “Stop, Pak,” Mei menghentikan angkutan setelah sampai di sebuah pasar. Ia membayar ongkos dan kemudian bergegas turun dari angkutan. Mei mengangkat tasnya dia atas kepalanya. Matanya bergerak mencari tempat berteduh dan tertuju pada sebuah warung yang sudah tak terurus lagi yang berada tepat didepannya. Tanpa pikir lagi ia segera berlari kesana karena hujan malah semakin deras. Seragamnya sudah setengah basah. Sepatunya penuh dengan air. Ia memeriksa isi tasnya berharap menemukan sandal atau kantung plastic untuk membungkus sepatunya yang basah tapi ia tak menemukan apapun kecuali buku-buku pelajarannya yang lembab.
            Mei mengerutkan wajahnya dan memandangi air yang jatuh dari langit. Tangan lembutnya mulai memainkan air yang terus jatuh itu. Tanpa ia sadari, ada seseorang yang tengah berdiri tak jauh dari Mei. Seorang pria 20 tahunan yang tinggi, berkulit putih dan juga tampan. Ia memperhatikan Mei dengan seksama kemudian tersenyum geli melihat tingkah Mei yang seperti anak kecil.
            Mei mulai menyadari kalau ada seseorang yang sedang berteduh di sana juga. Ia menoleh kearah pria itu dan pada saat bersamaan pria itu mengalihkan pandangannya dan juga senyumnya pada Mei. Saat melihat wajah pria itu, Mei seperti pernah melihatnya di suatu tempat, tapi entah dimana. Mei sama sekali tidak bisa mengingatnya.
            “Orang ini seepertinya pernah bertemu, tapi dimana? Haruskah aku menanyainya? Tapi SKSD banget,” gumamnya dalam hati.
            Suasana menjadi hening. Mei tak lagi memainkan tetesan hujan. Ia bersandar di tembok warung yang catnya sudah kusam. Pria itu juga sama. Ia bahkan menutup matanya karena mulai mengantuk. Akhirnya hujan mulai reda. Mei bergegas pulang karena hari sudah senja tanpa menoleh kearah pria yang membuka matanya dan tersenyum saat memandang Mei pergi.
            Sesampainya di rumah, Mei segera menjemur seragamnya dan buku pelajarannya dan juga membersihkan dirinya. Ia terfikir lagi tentang pria yang tadi berteduh di tempat yang sama dengannya. Ia yakin sekali bahwa ini bukan pertama kalinya ia bertemu dengan pria itu. “Semoga bisa bertemu lagi dengan orang itu,” cetusnya.
            Keesokan harinya Mei jadi harap-harap cemas apakah hari ini akan turun hujan lagi atau tidak. Cuacanya tidak mendung tapi juga tidak cerah. Secara tidak sadar, Mei berharap  hari ini akan turun hujan lebat agar dia bisa berteduh di tempat yang sama. Berteduh menunggu hujan reda. Berteduh bersama orang yang sama.
            “Kenapa aku berfikir seperti itu ya?” tanyanya dalam hati lalu tersipu malu.
            “Kenapa Mei? Kok kamu senyum-senyum sendiri?” tanya Dyah yang merasa gelagat Mei sangat aneh.
            “Enggak Yah. Cuma aku kemarin ketemu cowok ganteng banget. Tapi bukan itu sih point pentingnya.”
            “Terus kalau bukan itu apa?”
            “Mukanya itu familiar banget. Kayaknya pernah ketemu dimana gitu sama masnya.”
            “Dalam mimpi kali?” ledek Dyah.
            “Ya enggak lah Yah,” ujar Mei sambil mencubit pipi sahabatnya yang cubby. “Moga-moga ketemu dia lagi ya,” ujarnya lagi sambil tersenyum.
            Sepertinya Tuhan mendengarkan doa Mei. Awan-awan mulai menghitam dan petir mulai menyambar. Mei yang biasanya cemas dan takut jika hujan turun kali ini berbeda. Wajahnya terlihat begitu puas dan senang sampai-sampai jantungnya berdegup kencang. Ini pertama kalinya ia merasakan hhal seperti ini, benar-benar pengalaman pertamanya.
            “Yah, aku duluan ya,” kata Mei saat bel pulang berbunyi.
            “Cepet banget? Masih hujan Mei,” Dyah mencoba menghentikan Mei karena hujan masih sangat lebat namun Mei tak menghiraukannya.
            Seperti biasa, mei tak membutuhkan waktu lama untuk mendapat angkutan umum yang menuju rumahnya. Setelah melewati rute yang biasa ia lewati, ia turun di pasar dekat rumahnya dan matanya langsung mendapati pria itu di warung yang sama. Mei bergerak ke sana dengan alasan menunggu hujan reda.
            Pria itu tengah asik membaca sebuah buku. Mei mencuri-curi pandang untuk melihat sampul buku itu tapi sepetinya itu adalah buku biasa. Tiba-tiba saja ponsel pria itu berbunyi. Ia meletakkan bukunya di atas meja yang entah sejak kapan berada di sana.
            “Iya Ma?” kata pria itu saat menjawab teleponnya. Mei juga berkonsentrasi untuk mendapatkan informasi tentang pria itu. Minimal ia tau siapa nama pria itu.
            “Enggak, Adit masih kejebak hujan. Nunggu reda dikit, Ma.” Mei mengangguk-angguk saat mendengar Adit menyebutkan namanya.
“Jadi namanya Adit,” pikir Mei.
“Iya, Ma. Beres deh,” jawab Adit saat mengakhiri percakapan dengan ibunya di telepon.
Dalam hati, Mei sangat girang. Ia bisa tahu siapa nama pria itu dan juga bagaimana suaranya. Suara Adit yang berat dan serak memenuhi pikiran Mei secara tiba-tiba. Entah apa yang terjadi sebenarnya tapi sejak pertemuannya dengan Adit kemarin hati Mei jadi berbunga-bunga. Bibirnya selalu tersenyum senang. Dan sekarang perasaan grogi sedang menghinggapinya saat ia bertemu dengan Adit. Wajahnya sekarang berubah merah padam. Telingganya tersa panas dan jantungnya berdegup sangat kencang. “Apa ini efek karena mengetahui nama dan juga mendengar suara Mas Adit?”
Di tengah rasa grogi Mei, Adit pergi meninggalkan tempat itu. ia masuk ke dalam pasar. Sepertinya ada sesuatu yang harus ia lakukan setelah ibunya menelpon tadi. Tapi ada sesuatu yang Adit lupa, buku yang ia letakkan di atas meja. Mei yang melihat buku itu langsung menggambilnya dan membaca isi buku itu. Ia tercengan melihat isi buku yang dibaca oleh Adit tadi. Mei memeriksa halaman per halaman dan isinya dalah sama, puisi.
“Jadi ini kumpulan puisi? Tapi dia kemana? Boleh ya aku baca sambil nunggu dia balik ke sini?” ujarnya.
Mei membaca buku itu dengan seksama. Buku dengan tulisan yang rapi dan puisi yang begitu menyentuh hati. Buku itu sangat mengagumkan bagi Mei. Ia belum membaca seluruh halaman tapi ada satu puisi yang jadi favoritnya dengan judul Salju.
SALJU BEKU
Tatkala hati melintasi pikiran
Menjamu angan yang kian melayang
Meramu asa yang terus terbayang
Lambat laun sesal terasa
Hati bergeming bagai manara guncang
Mematung di jalanan
Melantunkan nada yang tak kunjung usai
Bagai ratapan sang teraniaya
Menyapu angin dalam hening
Membuat daun jatuh berguguran
Bergeming dalam lara ketidakpastian hati
Terpasung sedemikian rupa
Member harapan yang kian semu
Tempat hangat berubah dalam sekejab
Dalam kegelapan bagai lautan salju beku
  
            “Ini keren banget,” pekik Mei. “Tapi Mas Adit kemana sih? Kok gak balik juga? Hujan juga udah berhenti. Ini buku aku bawa pulang apa ditaruh sini aja ya?” Mei gusar. Ia meletakkan buku itu di atas meja tapi kemudian ia ambil lagi. “Kalau dia balik, kalau dia udah pulang nanti bukunya malah hilang. Kan sayang.” Akhirnya Mei memutuskan untuk membawa serta buku milik Adit itu bersamanya.


            Hari ini hujan turun lagi. Mei berteduh di warung itu seperti biasa. Ia mengeluarkan buku Adit dari tasnya. Jika nanti Adit berteduh di sini, Mei berniat untuk mengembalikan buku itu. ia bahkan memberikan sampul plastik agar buku itu tidak lecek dan lusuh.
            Sudah setengah jam hujan turun tapi tak ada tanda-tanda keberadaan Adit. Mei mulai cemas. Mungkin Adit tidak kesini hari ini. Lagipula untuk apa dia setiap hari pergi ke pasar ini. tapi jika ia tidak bertemu Adit, bagaimana caranya ia mengembalikan buku itu. pada akhirnya Mei pulang tanpa bertemu dengan Adit. Ia sesekali menoleh ke warung tempatnya berteduh, berharap Adit tiba-tiba muncul tapi harapannya tak jadi nyata.
            Mei berbaring di tempat tidurnya. Ia membuka-buka buku itu, mungkin saja ada alamat yang bisa ia ketahui. Sayangnya sampai halaman terakhir tak ada tulisan tentang biodata si penulis, Adit.
            “Gimana ini? Apa seharunya waktu itu aku gak ambil buku ini?” tanya Mei pada dirinya sendiri dengan gusar. “Pasti Mas Adit kelimpungan nyariin buku ini. Mudah-mudahan besok ketemu.”
            Mei merasa ada yang bergetar disampingnya. Ia melihat ponselnya dan mendapati nama Dyah di layar ponselnya. “Ngapain dyah nelpon malem-malem gini?” tanya Mei sembari menerima panggilan. “Halo Yah, ada apa? Tumben malem-malem gini nelpon?”
            “Kamu gak denger pengumuman tadi?”
            “Pengumuman apa?”
            “Ah, kamu sih buru-buru pulang melulu. Tadi itu ada pengumuman kalau dua hari lagi kita ada study tour ke Bali.”
            “Eh? Kok mendadak Yah?” tanya Mei kaget.
            “Iya, kata Bu anis seharusnya masih seminggu lagi. tapi berhubung minggu depan ada acara lomba karya ilmiah nasional jadi dimajuin. Kan sekolah kita jadi tuan rumahnya,” jelas Dyah.
            “Kok aku gak tau ya Yah?”
            “Makanya jangan ngurusin mas siapa itu namanya? Adi?”
            “Adit!”
            “Ah iya itu. kita tiga hari di sana.”
            “Lama bener tiga hari? Oke deh. Makasih ya infonya.”
            Mei memutuskan panggilannya. Ia sedikit kecewa karena selama tiga hari akan pergi ke luar kota jadi ia tidak bisa bertemu Adit dan mengembalikan buku itu. “Mas Adit, maaf ya.”


            Tiga hari telah berlalu. Mei dijemput Ayahnya dari sekolah karena barang bawaannya banyak sehingga tidak mungkin untuk naik angkutan umum. Mobil ayah melaju melewati pasar. Mei mendapati ada sesuatu yang berbeda di sana. Warung yang sudah tidak terurus yang jadi tempat berteduhnya selama ini telah berubah. Warung itu kini lebih cantik dengan cat berwarna hijau. Dinding depan berganti dengan jendela kaca yang besar. Di halaman depannya terdapat dua buah kursi dan sebuah meja.
            “Pa, itu toko baru?” tanya Mei.
            “Iya, baru buka kemarin. Itu toko roti. Kemarin waktu grand opening ada tester gratis terus Mama mampir kesitu. Katanya rotinya enak-enak sih, tapi Papa belum sempet nyobain. Emang kenapa?”
            “Enggak apa-apa kok Pa.” ujar Mei.
            Mei sempat melihat siluet Adit di dalam toko dan juga sebuah motor yang terparkir rapi di luar. Motor berwarna kuning yang juga familiar dimatanya. Mei mulai teringat sesuatu tentang motor itu tapi semuanya masih sangat samar.
            Ayah Mei menghentikan mobil di jalan turunan. Karena akses jalan yang sempit, mobil harus bergantian melewatinya. Mei melihat mobil yang melewati mobilnya dengan perlahan. Ia seperti de javu.
“Jalan ini? Motor?” tanya Mei tercengang. Saat itu juga ia ingat tentang sebuah motor dan pengendaranya. Ingatan saat dia masih SMP kembali menghinggapinya. Saat itu dia sedang berjalan menuju rumahnya seperti biasa. Di jalan yang sama dengan jalan yang ia lewati sekarang, ada sebuah motor yang melaju. Saat itu di jalan hanya ada dia dan juga pengendara motor itu. Saat berpapasan dengan Mei, pengendara motor itu terus saja melihat ke arah Mei. Mei yang masih polos melihat ke arahnya juga. Mereka terus berpandangan sampai keduanya mengambil belokan dan tak terlihat lagi satu sama lain. Kala itu Mei hanya berfikir kenapa orang itu melihatnya seperti itu.
  Mei mengingat kejadian itu sekali lagi. Ia memejamkan mata dan meyakinkan diri bahwa motor yang diapaki pengendara itu adalah motor yang sama dengan motor yang terparkir di depan toko roti dan pengendaranya adalah ADIT!
“Tatapan itu, tatapan mata itu beneran Mas Adit?” Mei benar-benar terkejut. “Jadi orang itu Mas Adit? Beneran Mas Adit?” Mei masih tidak percaya dengan ingatannya. Ia membuka tasnya dan mengambil buku puisi Adit. Ia membuka dua halaman terakhir. Di dalamnya ada puisi yang baru saja ditulis oleh Adit dengan tanggal 26 Desember.

DALAM HUJAN
Jalan itu masih saja berhamburan
Tatapan itu masih terus menatapku dalam diam
Hujan ini begitu menyejukkan
Hingga hati ini berdendang riang
Jika aku hatimu pasti kita akan bertemu
Jika kamu hatiku pasti kita kan bersatu
Ini rahasia Tuhan
Tapi ini juga rahasia besarku

“Puisi ini bukankah sangat mirip? Tanggal 26. Aku dan dia bertemu tanggal 25 Desember kan? Berarti dia,” Mei menebak-nebak apa yang terjadi dan siapa Adit. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia tertawa begitu keras karena semua isi pikirannya.
“Kamu itu kenapa sih Mei? Kok ketawa-ketawa gitu?” tanya Ayah Mei yang kaget dengan tawa keras Mei.
 “Mei menang lotre, Pa,” jawab Mei singkat sambil tertawa.
“Jaman sekarang masih ada lotre?” gumam ayah Mei.
Sesampainya di rumah, Mei segera memasukkan barang-barangnya ke dalam kamar. Ia langsung berpamitan pada kedua orang tuanya untuk pergi membeli roti. Ia membawa buku pusisi milik Adit. Ia tak sabar ingin segera bertemu dengan Adit sampai-sampai ia berlari agar cepat sampai pasar.
Sesampainya di sana, Mei mengontrol emosinya. Ia berusaha untuk tampak sewajar mungkin. Ia memantapkan hati untuk masuk ke dalam toko roti yang masih belum jelas ada Adit atau tidak di dalamnya. Mei membuka pintu toko dan melihat Adit berada di balik meja kasir. Adit tersenyum ramah pada Mei yang baru saja datang. Mei membalas senyuman Adit dengan senyum manisnya dan mendekati meja kasir.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Adit ramah yang membuat hati Mei meleleh.
“Saya mau mengembalikan ini,” Mei menyerahkan buku yang ia bawa pada Adit. “Ini punya Mas kan? Waktu itu ketinggalan,” ujar Mei malu-malu.
Adit menerima buku itu dan memeriksa isinya. “Ah, iya. Makasih ya udah mau balikin, Mei.”
Mei terbelalak karena Adit mengetahui namanya. “Kok Mas tau nama aku?” tanya Mei heran.
“Kamu belum baca halaman terakhir?” tanya Adit serius.
Mei menggeleng dan tersenyum. Adit tidak percaya kalau mei belum membaca halaman itu dan kemudian memukul kepalanya dengan buku itu perlahan sambil tersenyum juga. Mei telah membaca puisi di akhir halaman setelah ia sampai di rumah. Puisi yang berjudul Untuk yang begitu menggambarkan sosok Mei. Puisi indah yang tak mungkin Mei lupakan samapi kapanpun.

SELESAI


thank's for reading this. :) 
ini cerpen kesekian yang baru bisa di post. banyak banget kekurangannya, tapi saya akan berusaha untuk menulis lebih baik lagi

 
           

Lelaki yang Ingin Menghilang di Balik Cahaya

Ada seseorang yang memulai kariernya sejak remaja. Mereka berlima, bernyanyi bersama, tumbuh dalam sorot lampu yang sama. Ia yang paling tua...