Tuesday, 15 July 2014

[PUISI] Di Sudut Hati

Hari mulai senja
Tak menyisakan waktu sedikitpun
Untuk merasakan hangatnya matahari
Tetes-tetes hujan berjatuhan dari langit yang gelap
Tanpa sebab membuat mata ini sembab
                   
Aku memandangnya di tempat itu
Mengenang semua yang telah terjadi
Pada musim hujan setahun yang lalu
Musim hujan
Yang telah merubah hati dan juga pikiranku

Entah mengapa
hal itu menjadi sesuatu yang amat dahsyat
Haruskah aku bersyukur?
Atau aku harus menyesalinya?

Bersama dengan aliran air itu
Aku pergi meninggalkannya sendiri
Di tempat aku berdiri saat ini
Bukan karena aku membencinya
Tapi karena aku amat menyayanginya
Bukan karena aku menghindarinya
Tapi karena aku bersamanya
Untuk menghadapi dunia dihadapannya

Meskipun hatiku tertusuk sangat dalam
Sekalipun jantungku terkoyak amat menyakitkan
Karena aku tak bisa melakukan hal lain selain pergi
Untuk menyelamatkan hidupnya.

Dia menatapku begitu dalam
Sorot matanya penuh keraguan dan tanda tanya
Tetapi, dia tak menghalangiku selangkahpun
Ia masih menatapku hingga saat ini
Tatapan yang sama
Tatapan yang amat kurindukan
Tatapan yang sama
Tatapan yang amat mendamaikan hati

Tetapi, tak ada yang tahu
Seperti apa dalamnya cintaku padanya
Tetapi tak ada yang peduli
Seberapa besar cintanya padaku
Dan tak ada satupun yang peduli
Betapa menderitanya aku dan dia
Karena perpisahan yang amat terpaksa ini.

Maaf, maafkanlah aku
Entah apa yang kulakukan
Aku tak tahu sedikitpun
Maaf, maafkan aku
Entah apa yang sedang terjadi
Aku tak mengerti sama sekali
Tapi ketahuilah
Bahwa aku akan selalu merindukanmu
Hanya dirimu

Aku tidak tahu siapa yang kuhadapi
Kawan atau lawan
Jika kawan
Mengapa mereka membiarkan semua ini terjadi? Mengapa mereka tak mengerti perasaan kami? Mengapa mereka mencaci semuanya?
Tak ada yang menjawabnya
Hngga aku berdiri di sini
Bersama tetesan hujan.
Berkali-kali aku memandangnya
Beberapa saat setelah kejadian menyakitkan itu
Berkali-kali pula dia membalas pandanganku
Dengan tatapannya yang amat sangat kurindukan

Hujan turun lagi
Kala itu begitu lebat
Seperti hatiku yang sedang tak karuan
Hujan memaksa kami tetap berada di tempat itu
Di ruang kelas bersama dengan yang lain
Aku tak tahan
Tapi air mata ini tak pernah bisa keluar lagi
Dari sudut mataku

Ingin sekali berteriak
Tapi suara itu tak keluar lagi dari bibirku
Aku terlalu lelah untuk melakukannya
Aku tak sanggup lagi untuk itu semua

Hatiku hanpir mati
Aku hampir saja menjadi mayat hidup
Tapi mereka tetap tak peduli
Mereka tetap tertawa di setiap sudut ruangan
Mereka tetap tak peduli betapa terpuruknya diriku
Mereka tak pernah tau betapa menderitanya hatiku

Cinta ini pasti akan sirna
Tapi entah kapan
Cinta ini pasti akan terganti
Tapi aku tak tahu oleh siapa
Namun, sebelum semuanya terjadi
Aku akan tetap mengingat semua ini
Dan bila semua itu terjadi
Akan ku simpan kenangan itu
Dalam bingkai emas hatiku

Cintaku, cinta pertamaku hilang
Kutinggalkan karena kawan yang menghadang
Cintaku musnah didera kecemburuan yang sia-sia
Sadarkah mereka?

Hujan telah berhenti
Aku pergi dari tempat
Dimana aku pergi meninggalkannya
Musim hujan setahun yang lalu
Aku tak ingin lagi ada disaat itu
Demi dia
Demi menjaga hatinya
Demi menyelamatkan hidupnya

Aku beranjak pergi
Tanpa memandang ke belakang
Karena dia tak mungkin ada di sana
Untuk menemuiku
Dan aku membiarkan hatiku
Untuk tertidur sejenak

Dalam bingkai emas hatiku

No comments:

Post a Comment

Lelaki yang Ingin Menghilang di Balik Cahaya

Ada seseorang yang memulai kariernya sejak remaja. Mereka berlima, bernyanyi bersama, tumbuh dalam sorot lampu yang sama. Ia yang paling tua...