Hari mulai senja
Tak menyisakan
waktu sedikitpun
Untuk merasakan
hangatnya matahari
Tetes-tetes hujan berjatuhan dari langit yang gelap
Tanpa sebab membuat mata ini
sembab
Aku memandangnya di tempat itu
Mengenang semua
yang telah terjadi
Pada musim hujan
setahun yang lalu
Musim hujan
Yang telah merubah
hati dan juga pikiranku
Entah mengapa
hal itu menjadi sesuatu yang amat dahsyat
Haruskah aku bersyukur?
Atau aku harus menyesalinya?
Bersama dengan aliran air itu
Aku pergi
meninggalkannya sendiri
Di tempat aku
berdiri saat ini
Bukan karena aku membencinya
Tapi karena aku
amat menyayanginya
Bukan karena aku menghindarinya
Tapi karena aku
bersamanya
Untuk menghadapi
dunia dihadapannya
Meskipun hatiku tertusuk sangat dalam
Sekalipun jantungku
terkoyak amat menyakitkan
Karena aku tak bisa melakukan hal lain selain pergi
Untuk menyelamatkan
hidupnya.
Dia menatapku begitu dalam
Sorot matanya penuh keraguan dan tanda tanya
Tetapi, dia tak menghalangiku selangkahpun
Ia masih menatapku
hingga saat ini
Tatapan yang sama
Tatapan yang amat
kurindukan
Tatapan yang sama
Tatapan yang amat
mendamaikan hati
Tetapi, tak ada yang tahu
Seperti apa
dalamnya cintaku padanya
Tetapi tak ada yang peduli
Seberapa besar
cintanya padaku
Dan tak ada satupun yang peduli
Betapa menderitanya
aku dan dia
Karena perpisahan
yang amat terpaksa ini.
Maaf, maafkanlah aku
Entah apa yang kulakukan
Aku tak tahu
sedikitpun
Maaf, maafkan aku
Entah apa yang sedang terjadi
Aku tak mengerti
sama sekali
Tapi ketahuilah
Bahwa aku akan
selalu merindukanmu
Hanya dirimu
Aku tidak tahu siapa yang kuhadapi
Kawan atau lawan
Jika kawan
Mengapa mereka
membiarkan semua ini terjadi? Mengapa mereka tak mengerti perasaan kami? Mengapa mereka
mencaci semuanya?
Tak ada yang menjawabnya
Hngga aku berdiri
di sini
Bersama tetesan hujan.
Berkali-kali aku memandangnya
Beberapa saat setelah
kejadian menyakitkan itu
Berkali-kali pula dia membalas pandanganku
Dengan tatapannya
yang amat sangat kurindukan
Hujan turun lagi
Kala itu begitu lebat
Seperti hatiku yang
sedang tak karuan
Hujan memaksa kami tetap berada di tempat itu
Di ruang kelas
bersama dengan yang lain
Aku tak tahan
Tapi air mata ini
tak pernah bisa keluar lagi
Dari sudut mataku
Ingin sekali berteriak
Tapi suara itu tak
keluar lagi dari bibirku
Aku terlalu lelah untuk melakukannya
Aku tak sanggup lagi untuk itu semua
Hatiku hanpir mati
Aku hampir saja menjadi mayat hidup
Tapi mereka tetap tak peduli
Mereka tetap tertawa di setiap sudut ruangan
Mereka tetap tak peduli betapa terpuruknya diriku
Mereka tak pernah tau betapa menderitanya hatiku
Cinta ini pasti akan sirna
Tapi entah kapan
Cinta ini pasti akan terganti
Tapi aku tak tahu
oleh siapa
Namun, sebelum semuanya terjadi
Aku akan tetap
mengingat semua ini
Dan bila semua itu terjadi
Akan ku simpan
kenangan itu
Dalam bingkai emas hatiku
Cintaku, cinta pertamaku hilang
Kutinggalkan karena
kawan yang menghadang
Cintaku musnah didera kecemburuan yang sia-sia
Sadarkah mereka?
Hujan telah
berhenti
Aku pergi dari
tempat
Dimana aku pergi
meninggalkannya
Musim hujan setahun
yang lalu
Aku tak ingin lagi
ada disaat itu
Demi dia
Demi menjaga
hatinya
Demi menyelamatkan
hidupnya
Aku beranjak pergi
Tanpa memandang ke
belakang
Karena dia tak
mungkin ada di sana
Untuk menemuiku
Dan aku membiarkan
hatiku
Untuk tertidur sejenak
Dalam bingkai emas
hatiku
No comments:
Post a Comment