Ada seorang gadis bernama Ran. Usianya sekitar
20 tahun. Malam itu dia sedang berbelanja di sebuah mini market di sekitar
kompleks rumahnya. Ia sedang lapar dan tak menemukan makanan apapun di dalam
kulkasnya, yang ada hanya susu dan air mineral di dalamnya. Ia berjalan
memasuki mini market dan langsung menuju rak makanan kemasan. Di sana ia
melihat sosis, kornet, nuget, bakso dan juga udang. Setelah berfikir sejenak,
ia memilih nuget ayam dan udang.
Seperti gadis kebanyakan, dia melihat-lihat
seisi mini market terlebih dahulu sebelum membayar belanjaannya. Mungkin ada
sesuatu yang ia butuhkan lagi. Ia mengambil shampo dan juga sabun mandi untuk
persediaan di rumah dan kemudian bergerak menuju meja kasir. Langkahnya
terhenti saat ia melihat seseorang yang ada di balik meja kasir. Seorang
laki-laki yang sedang melayani pelanggan tetapi ia tidak sedang memakai seragam
kerja mini market tersebut.
'Bukankah itu Dika? Apa yang sedang dia lakukan
di sini?' gumam Ran. Dia mulai cemas dan mengurungkan niatnya untuk membayar
belanjaannya. Ran melihat seorang ibu yang sedang asik memilih snak untuk
anaknya dan mendapatkan ide cemerlang.
‘Maaf, Bu, saya mau minta tolong,’ katanya
sambil menghampiri ibu itu.
‘Kenapa ya Mbak? Mbak gak bawa uang? Saya gak
bisa nalangin loh,’ tanya ibu itu curiga.
‘Bukan, bukan gitu Bu. Saya mau minta tolong
bayarin belanjaan saya emang, tapi pakai uang saya, Bu. Ibu bisa bantu?’
‘Lah, memangnya kenapa Mbak?’
‘Jadi gini Bu, cowok yang ada di kasir itu
temen saya waktu SMA. Nah dia itu orangnya gak bisaan Bu. Nanti kalau dia tau
saya yang belanja dia pasti kasih gratis ke saya. Saya kan gak enak Bu. Mau ya
Bu, please,’ ujar Ran memohon pada ibu yang sekarang sedang memandangi
laki-laki di meja kasir tersebut.
‘Oh, jadi itu temen Mbak?’ Ibu itu mulai
percaya dan luluh pada permintaan Ran.
‘Iya, Bu. Mau ya Bu ya, nanti saya tunggu di
depan.’
‘Iya deh Mbak, saya bantuin deh.’
‘Makasih banget Bu,’ Ran meletakkan
belanjaannya di keranjang ibu itu dan memberikan uang untuk membayar belanjaannya.
Setelah itu dia pergi keluar dengan hati-hati jangan sampai laki-laki itu
memperhatikan bahkan sampai mengenalinya.
Ran menunggu di luar mini market. Dari luar
terlihat ibu tadi sedang membayar sambil bercanda dengan Dika. Sesekali ibu itu
menunjuk gadis yang ada di depan mini market yang membuat Ran khawatir,
mungkinkah ibu itu mengatakan bahwa ada yang meminta tolong padanya atau
menunjuk pada hal lain, rumah tempat tinggalnya mungkin? Ah, entahlah.
Ibu tadi akhirnya keluar dari mini market dan
menghampiri Ran yang sedang menunggunya. ‘Ini Mbak belanjaannya.’
‘Makasih ya Bu. Ibu baik banget.’
‘Sama-sama Mbak. Tapi Mbak, ternyata cowok itu
bukan kasir di sini. Dia Cuma nggantiin temennya yang lagi istirahat di
belakang.’
‘Oh gitu ya Bu?’
‘Iya, katanya dia tinggal di sekitar sini. Itu
kontrakan di komplek J.’
‘Hah? Beneran Bu?’ Ran kaget. Itu artinya
tempat tinggal mereka berdekatan.
‘Iya, Mbak. Ya udah kalo gitu Ibu duluan ya.’
‘I..iya Bu, hati-hati. Makasih sekali lagi ya
Bu.’
Ran memandang Dika sekali lagi dengan tatapan
sedih. Ia pulang dan meletakkan belanjaannya di atas meja. Perutnya sudah tak
terasa lapar. Rasa lapar itu mendadak hilang saat dia melihat Dika untuk
pertama kalinya setelah 6 bulan tidak bertemu. Mungkin mereka akan lebih sering
bertemu mungkin juga tidak.
No comments:
Post a Comment