Monday, 9 February 2015

Ran dan Dika

Ada seorang gadis bernama Ran. Usianya sekitar 20 tahun. Malam itu dia sedang berbelanja di sebuah mini market di sekitar kompleks rumahnya. Ia sedang lapar dan tak menemukan makanan apapun di dalam kulkasnya, yang ada hanya susu dan air mineral di dalamnya. Ia berjalan memasuki mini market dan langsung menuju rak makanan kemasan. Di sana ia melihat sosis, kornet, nuget, bakso dan juga udang. Setelah berfikir sejenak, ia memilih nuget ayam dan udang.
Seperti gadis kebanyakan, dia melihat-lihat seisi mini market terlebih dahulu sebelum membayar belanjaannya. Mungkin ada sesuatu yang ia butuhkan lagi. Ia mengambil shampo dan juga sabun mandi untuk persediaan di rumah dan kemudian bergerak menuju meja kasir. Langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang yang ada di balik meja kasir. Seorang laki-laki yang sedang melayani pelanggan tetapi ia tidak sedang memakai seragam kerja mini market tersebut.
'Bukankah itu Dika? Apa yang sedang dia lakukan di sini?' gumam Ran. Dia mulai cemas dan mengurungkan niatnya untuk membayar belanjaannya. Ran melihat seorang ibu yang sedang asik memilih snak untuk anaknya dan mendapatkan ide cemerlang.
‘Maaf, Bu, saya mau minta tolong,’ katanya sambil menghampiri ibu itu.
‘Kenapa ya Mbak? Mbak gak bawa uang? Saya gak bisa nalangin loh,’ tanya ibu itu curiga.
‘Bukan, bukan gitu Bu. Saya mau minta tolong bayarin belanjaan saya emang, tapi pakai uang saya, Bu. Ibu bisa bantu?’
‘Lah, memangnya kenapa Mbak?’
‘Jadi gini Bu, cowok yang ada di kasir itu temen saya waktu SMA. Nah dia itu orangnya gak bisaan Bu. Nanti kalau dia tau saya yang belanja dia pasti kasih gratis ke saya. Saya kan gak enak Bu. Mau ya Bu, please,’ ujar Ran memohon pada ibu yang sekarang sedang memandangi laki-laki di meja kasir tersebut.
‘Oh, jadi itu temen Mbak?’ Ibu itu mulai percaya dan luluh pada permintaan Ran.
‘Iya, Bu. Mau ya Bu ya, nanti saya tunggu di depan.’
‘Iya deh Mbak, saya bantuin deh.’
‘Makasih banget Bu,’ Ran meletakkan belanjaannya di keranjang ibu itu dan memberikan uang untuk membayar belanjaannya. Setelah itu dia pergi keluar dengan hati-hati jangan sampai laki-laki itu memperhatikan bahkan sampai mengenalinya.
Ran menunggu di luar mini market. Dari luar terlihat ibu tadi sedang membayar sambil bercanda dengan Dika. Sesekali ibu itu menunjuk gadis yang ada di depan mini market yang membuat Ran khawatir, mungkinkah ibu itu mengatakan bahwa ada yang meminta tolong padanya atau menunjuk pada hal lain, rumah tempat tinggalnya mungkin? Ah, entahlah.
Ibu tadi akhirnya keluar dari mini market dan menghampiri Ran yang sedang menunggunya. ‘Ini Mbak belanjaannya.’
‘Makasih ya Bu. Ibu baik banget.’
‘Sama-sama Mbak. Tapi Mbak, ternyata cowok itu bukan kasir di sini. Dia Cuma nggantiin temennya yang lagi istirahat di belakang.’
‘Oh gitu ya Bu?’
‘Iya, katanya dia tinggal di sekitar sini. Itu kontrakan di komplek J.’
‘Hah? Beneran Bu?’ Ran kaget. Itu artinya tempat tinggal mereka berdekatan.
‘Iya, Mbak. Ya udah kalo gitu Ibu duluan ya.’
‘I..iya Bu, hati-hati. Makasih sekali lagi ya Bu.’

Ran memandang Dika sekali lagi dengan tatapan sedih. Ia pulang dan meletakkan belanjaannya di atas meja. Perutnya sudah tak terasa lapar. Rasa lapar itu mendadak hilang saat dia melihat Dika untuk pertama kalinya setelah 6 bulan tidak bertemu. Mungkin mereka akan lebih sering bertemu mungkin juga tidak.

No comments:

Post a Comment

Lelaki yang Ingin Menghilang di Balik Cahaya

Ada seseorang yang memulai kariernya sejak remaja. Mereka berlima, bernyanyi bersama, tumbuh dalam sorot lampu yang sama. Ia yang paling tua...